Sambil menatap wajah sang guru, seorang murid bercakap dengan dirinya sendiri;
Guru... aku tidak peduli bagaimana engkau memperlakukan aku, bagaimana engkau melihat aku. Aku bukan murid yang spesial, aku belum menjadi murid yang adabnya seperti imam syafi'i. Aku bukan murid yang paling pandai, bukan yang paling baik, bukan yang paling rajin, bukan yang paling taat, bukan pula aku yang paling gigih.
Aku mempersilakanmu dengan senang hati apapun yang kau lakukan padaku selama Allah dan engkau ridha padaku. Karena aku sadar, bahwa bahkan sampai saat ini aku masih belajar bagaimana menjadi murid. Aku belum sampai pada level murid.
Maafkan aku jika adabku belum menyejukkan, jika kesungguhanku belum membahagiakan, jika ketangkasan otakku belum membanggakan.
Aku mempersilakan bagaimanapun engkau melihatku, karena tugasku bukan mengatur itu.
Aku hanya ingin bisa menjadi murid yang berbakti. Yang melakukan apa yang Allah perintahkan padaku. Yang mencoba menjalankan apa yang Imam Ghazali ajarkan.Yang bisa selalu mengingatmu dalam doa yang tidak putus.
Aku mempersilakan bagaimanapun engkau melihatku, karena tugasku bukan itu. Aku hanya ingin kelak bisa melihatmu berdampingan dengan Rasulullah shallahu alaihi wasallam, menatapmu berkumpul dengan syuhada dan shalihin, atas jasa ilmu yang selalu kau kucurkan untukku, atas kesabaranmu mendidikku, atas kesabaranmu mengenalkanku tentang aku dan Rabb-ku.
Semua menjadi tahap belajar untukku. Bukan saja mempelajari ilmu yang kau beri, namun aku masih belajar bagaimana menjadi layak sebagai 'penggenggam ilmu' sepertimu.
Untuk seluruh guruku, terimakasih ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar