Setetes hidayah telah membasahi dasar hatiku. Hingga bersusulan tetes-tetes lainnya yang menjadikan hati ini semakin sejuk. Cahaya-Nya telah menyentuhku. Seperti bayi merah aku kembali belajar memulai kehidupan. Dari titik nol, ku jejakkan langkah demi langkah dalam kehati-hatian. Mencari suatu angan yang menjadi asa. Mengaliri riak rindu yang kian meluruh. Menyambut desir cinta yang kian bertabuh. Jalinan rindu dan cinta yang patuh. Akan Rabb Yang Maha Mengasuh. Menggigil aku dalam kerinduan, bersimpuh aku dalam mencapai kesejatian cinta kepada-Nya.
Seorang sahabat yang telah mengantarku pada gerbang hidayah ini, suatu kali mengenalkan aku pada seorang pemuda berwajah bersih nan bercahaya, matanya yang sejuk nan damai terus ia tujukkan ke bumi-Mu yang amat luas. Hanya sekali dua aku melihat wajahnya tertuju pada dua makhluk di depannya.
“Alhamdulillah, kita kedatangan saudari baru, Akh. Namanya Arina. Dia baru saja mengucapkan dua kalimat syahadat seminggu yang lalu. Ia amat membutuhkan bimbingan yang dalam mengenai agama kita, agar kokoh iman dalam hatinya. Oleh karena itu, saya minta tolong sama Akh Farsan untuk membimbing Arina. Biar bagaimanapun, pengetahuan agama Akh Farsan lebih luas dan mendalam.” Wanita berjilbab di sebelahku akhirnya mengungkapkan maksud dan tujuan kami menemuinya.
Laki-laki berkemeja kotak-kotak itu mengangguk dan tersenyum tulus. Seakan menyambut diriku dalam ruang persaudaraan dengan tangan terbuka. Sejak hari itu, aku banyak menghabiskan waktu untuk berdiskusi dengannya. Menemukan makna sejati Tuhan yang selama ini aku cari. Menyadari betapa hina dan kotor diri. Mengagumi betapa luas nikmat dan anugerah dari-Nya. Hingga terasa hampa dan kerontang jiwa ini. Ingin rasanya hati ditaburi cinta. Cinta suci yang bermakara. Cinta hakiki yang merengkuh raga, yaitu titian cinta dari Yang Maha Kuasa.
Bagaimana agar aku bisa mencintai-Mu sepenuh hatiku? Hati ini terasa pilu. Karena tak jua aku menemukan jalanku.
Hari-hariku telah berlalu. Diisi ilmu yang tak pernah membuatku jemu. Betapa dalam kefahaman akan din pada laki-laki itu. Aku tahu, ia lah seorang yang telah berhasil mencintai-Mu. Mencintai-Mu dengan sepenuh hati tanpa ragu. Hingga membuatku merasa malu dan cemburu.
Namun, ampun, yaa karim. Ternyata aku tergelincir dari cahaya Sirathal Mustaqim. Seakan pada diri cinta menghakim. Tanpa bersapa kemudian ia bersalim.
Akhirnya aku jatuh cinta. Namun bukan kepada-Nya. Tetapi kepada makhluk-Nya. Hamba-Nya. Hamba yang amat mencintai-Nya. Berawal dari kekaguman akan cintanya pada Rabbnya. Mengantarkan kecintaan lahiriah dari hati seorang wanita kepada laki-laki yang berteguh hati akan dinnya.
Kali pertama aku merasakan cinta yang teramat indah. Kepada makhluk-Nya yang berurai anugerah. Menghembuskan kesejukan dari rasa gerah. Yaa Allah, aku sungguh telah jatuh cinta. Apa daya hati tak dapat mengolah? Lalu ku biarkan ia tumbuh dalam bunga sukmaku yang indah.
Tak ada cinta yang sempurna tanpa sebuah kepemilikan. Hingga keinginan itu datang memberi keyakinan. Ketika cinta telah mendarah daging di dalam badan, ingin rasanya menjadi halal dalam dekapan. Andai semua mengalir tanpa beban, namun aku tak kuasa untuk mengungkapkan. Aku hanya seorang wanita yang siap menunggu entah hingga kapan. Ku pasrahkan cinta yang teramat dalam ini kepada Ia Yang Maha Menentukan.
Hingga tiba di sebuah sore berhiaskan pelangi, sahabatku datang membawa kegundahan hati. Ketika sampai ia membuka diri, hati bagai tergores oleh pisau belati. Curahan hati seorang yang pantas untuk dicintai. Ia, sahabatku, yang telah mengenalkanku akan kerahmatan din ini, telah dipilih menjadi seorang bidadari, yang diharap menjadi pendamping di surga nanti. Yaa Allah, ia memang pantas untuk dicintai.
Ingin rasanya memantaskan diri di depannya, namun apa daya, tak kuasa bertegar mengetahui siapa arjuna yang telah memilihnya. Ia lah pahlawan hatiku yang selalu membuatku berbunga. Lalu harus ku apakan diri ini ketika jiwa seakan terpisah dengan raga? Aku mencintainya, amat mencintainya, entah hingga waktu yang tak kunjung jua. Namun, ternyata semua telah disusun-Nya. Ia telah memilih bidadarinya, yang juga amat mencintai-Nya.
Bulir bening kerap menghiasi pipiku. Sesak dan hampa dirasa. Hari-hariku terasa semu dan pilu. Hati terus menangis tersedan sedu. Aku tahu, ketika aku siap menjemput cintaku, aku pun harus siap berjumpa dengan patah hati yang teramat pilu. Mulutku bisu, namun hatiku terus mengadu. Yaa Allah, mengapa tak Engkau ciptakan ia untukku??
Hingga akhirnya aku lelah dengan semuanya, dengan perasaan yang terus memaksa, dengan luka yang semakin menganga. Aku pun terjatuh. Bersimpuh aku dalam sujudku. Menangis mengingat-Nya yang telah tega aku duakan. Yaa Allah, ampuni aku. Tak akan berarti perasaan yang telah aku perjuangkan, tak akan berarti air mata yang telah aku keluarkan. Karena semuanya tak berlandaskan pada-Mu. Aku khilaf. Aku telah menduakan-Mu. Kepada seseorang yang mencintai-Mu. Hingga tertutup pintu hatiku. Kini aku mengerti akan cinta-Mu, cemburu-Mu, kepada hamba-hamba yang berpaling dari-Mu. Syukurku diberi kesempatan kedua oleh-Mu. Untuk kembali mengeja pesan-Mu, memahami kuasa-Mu. Aku ingin mencintai-Mu, sepenuh hatiku, tanpa sebersit ragu.
Betapa luas samudera maaf yang dimiliki-Nya. Hingga kembali terbuka mata hati yang selama ini buta. Dengan jiwa yang belajar bersahaja, aku telah kembali kepada-Nya. Melandaskan segala sesuatu atas-Nya. Agar diri tak jauh dari surga.
Akhirnya, aku bisa tersenyum, melihat sepasang Al-Banna di atas pelaminan sederhana. Yang bahagia siap menyambut rumah tangga dengan keridhaan-Nya. Membangun pondasi kokoh berlandaskan takwa, dan nantinya melahirkan mujahid-mujahidah yang akan bermakna.
“Barakallahu lakuma wa jama’ah fiil khoir.” Ucapku tulus pada dua insan yang bersanding bahagia. Sempurna. Perlahan perasaan itu luruh digantikan cahaya cintaku kepada-Nya. Tergugu aku dalam pelukan sahabatku yang telah menjadi miliknya, yang telah halal baginya. Ku harap mereka bahagia selamanya hingga akhir menjemput surga. Aamiin.
Sebentuk senyum tak bisa lepas dari bibirku. Terlebih ketika mendengar sebuah bisikan yang diantar oleh cintaku, “Sesungguhnya Aku telah menyiapkan pangeran berkuda putih yang lebih baik untukmu.” Setetes bening cinta kembali menghiasi pipiku, kali ini adalah tangis kebahagiaan, keharuan, dan ketentraman.
Inilah cinta sejati. Cinta yang selama ini aku cari. Cinta kepada Rabb yang Ilahi. Cinta yang takkan tertandingi.
Yaa Allah, aku ingin mencintai-Mu, dan selamanya akan tetap mencintai-Mu.
📌Ditulis ba'da isya, setelah menerima undangan berwarna hijau bertintakan emas. Cilamaya, 04 Desember 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar